24 januari 2008, just my sadness..

Aku bukanlah orang yang sempurna, karena kuyakin kesempurnaan milik Tuhan. Tapi terkadang aku kurang mengerti akan maksud dan rencana-Nya.
Pagi itu, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Namun bedanya, aku boleh masuk agak siang, karena sekolahku mengikuti lomba lingkungan sekolah sehat. Aku berangkat pukul 8 pagi, Carissa as Chacha as Cece—sahabatku—menelponku, dan berkata bahwa dia ingin menitip dibelikan aqua. Aku mengiyakan dan segera meluncur ke Indomaret dekat rumah, dalam bayanganku dia akan tersenyum begitu melihat aku datang dengan membawa pesanannya. Sesampaiku di kelas, Chacha mengatakan bahwa dia sangat menantikan kehadiranku. Dia bilang dia sendirian di kelas. Entah itu benar atau tidak. Tapi aku percaya padanya. Selalu percaya. Chacha memiliki banyak sekali persamaan denganku, mulai dari selera, hobi, perspektif, solusi dan hal-hal lain yang tak bisa kusebutkan karena banyaknya. Dia benar-benar mirip denganku. Bahkan aku bisa membaca pikirannya karena yang dia pikirkan pasti sama denganku.
Saat itu ia sedang berhadapan dengan komputer bersama teman-temanku yang lain, entah sedang apa. Chacha dan teman-temanku sedang membicarakan sesuatu, aku ingin terlibat didalamnya. Aku segera mendengarkan cerita salah satu teman—Nila—bahwa dia menjadi Master of Ceremony (MC) di lomba lingkungan sekolah sehat itu. Hebatnya, dia menggunakan bahasa mandarin. Masih kuingat jelas pakaian yang dipakainya, a la gadis Cina. Setelah itu, kami membicarakan hal-hal yang jayus lainnya dan tertawa bersama.
Tanpa terasa, perutku keroncongan. Aku melirik jam dinding, oops.. jarum pendek menunjuk angka 9. Aku segera mengajak Chacha untuk mencari sarapan di luar seolah, karena setelah kuperiksa, ternyata semua penjual di kantin juga ikutan libur. Aku mengajaknya pergi tanpa arah, karena di dekat sekolah tidak ada satu pun penjual makanan. Dengan lyn JSP berwarna kuning, Aku dan Chacha menuju ke arah alun-alun, sambil berharap aku temukan penjual di sana.
Sesampainya disana, aku menemukan depot makanan. Tanpa pikir panjang, kami segera masuk. Kami berdua memesan menu yang sama, pecel dan es teh. Setelah kami selesai makan, ada 2 orang pria berseragam polisi mengatakan kepada kami bahwa mereka akan membayar semua pesanan kami. Aku dan Chacha hanya terperangah. Ah, mimpi apa Aku semalam? Yah, sudahlah, alhamdulillah saja. Rezeki tidak boleh ditolak. Nanti mubazir, ya nggak?
Sepanjang perjalanan pulang, Aku dan Chacha tak berhenti tertawa membicarakan kejadian yang baru saja terjadi kepada kami. Sekembalinya aku dan Chacha ke sekolah, kami segera menuju Laboratorium kimia. Kami kesana karena seluruh siswa akselerasi bertugas di lab.kimia. Bu Fin berkata berkali-kali bahwa juri akan segera datang, namun hingga pukul 1 siang tidak kunjung datang juga. Kami menunggu dengan rasa bosan yang luar biasa, menunggu di dalam lab. kimia yang pengap dan panas. Huufh, OMG..panas banget! Yaah..meskipun sayup-sayup terdengar suara penyiar radio sekolah kami dari dua speaker yang ada di samping foto SBY dan JK.
Tiba-tiba suara Dyka—sahabatku sejak smp—memecah kesunyian. Ternyata dia memanggil namaku, Dyka memintaku menghampirinya, dan aku segera menuju ke tempat duduknya, meninggalkan Chacha yang duduk di sebelahku karena Chacha kebetulan sekelompok praktikum kimia denganku.
Saat kuhampiri Dyka, Dyka tak berkata sepatah katapun. Dia malah memasang mimik serius sambil melihat ke arah Chacha. Aku jadi heran sekaligus penasaran, kok Aku malah dicuekin? Dan kemudian secara refleks Aku mengikuti tingkah Dyka itu. Ternyata, ada seorang pemuda yang duduk di sebelah Chacha, tanpa memicingkan mataku yang minus 1 ini aku sudah tahu kalau itu adalah Fahmi, seseorang yang ketika namanya baru kupikirkan saja sudah membuat jantungku berstagnasi, keringat mengucur, dan hatiku berdesir. Sayangnya, sudah sejak lama Chacha pun merasakan hal yang sama denganku.
Diiringi lagu musnah oleh andra and the backbone dari radio sekolah, Fahmi berkata memecah kesunyian, “Temen-temen semua, sekarang, aku ingin mengatakan sesuatu..,” pikiran negatifku membayang, badanku terpaku, lidahku tercekat, sungguh, saat itu tak ada yang bisa kulakukan dari jarak 7 meter dari Chacha dan Fahmi. Dyka yang ada disebelahku berusaha menghiburku dengan mengelus pundakku—yang kuharap Aku tidak tahu mengapa dia melakukannya—. Tiba-tiba kedatangan Bu Fin mengejutkan kita semua, “Anak-anak! Sudah siap semua?” sontak semua yang ada disitu berkata “Sudah, Bu!” dengan harapan bahwa bu Fin akan segera keluar dan Fahmi bisa meneruskan kata-katanya. Asal mereka tahu, baru kali ini Aku tidak ingin Bu Fin meninggalkan kelas. Tidak ingin Bu Fin cepat pergi.
Seperginya Bu Fin, Fahmi meneruskan ucapannya setelah didesak oleh teman-teman, “Tadi pagi Aku mendapatkan sms beruntun dari Dyka, yang isinya adalah informasi tentang penugasan kita di laboratorium kimia ini, kemudian apabila Aku tidak meneruskan sms itu Aku tidak akan pernah punya pacar. Aku sangat takut dengan isi sms itu. Jadi aku langsung mengirimkannya ke absen dibawahku. Dan saat ini yang ingin aku katakan, err..Begini, teman-teman…err…sebenarnya, sudah sejak lama, Aku suka sama Carissa, Chacha, Cece, atau apa lah nama panggilannya dan ini bukan sekedar suka, ini sayang, err…cinta.” Zlepp.. seperti ada sebilah pisau yang menusukku dari belakang, seperti tamparan telak di muka yang sangat panas dan serasa badai pasir yang membuat mataku pedih datang menghampiriku.
Harapanku pupus tak bersisa setitikpun. Dadaku terasa sesak, kelenjar air mataku menggeliat dan melonggarkan seluruh salurannya. Namun entah mengapa air mata ini tak menetes. Padahal aku adalah seorang siswi SMA berumur 16 tahun yang terkenal cukup cengeng. Bahkan sifat inilah yang membedakanku dengan Chacha. Tapi kenapa aku tidak menangis? Aku tidak berani sedikitpun sedetikpun menatap Fahmi atau Chacha, Aku malah berlagak sok-asik-sendiri memainkan air sabun di dalam erlenmeyer yang ada di meja di depanku. Aku takut momen penting mereka ini terganggu olehku. Aku tetap memainkan air sabun itu sampai Aku merasa ada seseorang yang menatap kearahku dengan tajam. Ternyata Chacha yang menatap ke arahku. Dia menatap dengan wajah merona dan cemas sekaligus. Jelas terlihat dari wajahnya, Chacha meminta persetujuanku. Aku menjawabnya dengan tersenyum setulus yang ku bisa, demi sahabatku.
Lalu Chacha berkata sambil menatap Fahmi, “Terus, kamu maunya apa?” Fahmi terkejut dan membalas menatap Chacha, sungguh, kulihat kilauan cinta di sepasang mata milik Fahmi. Fahmi menjawab dengan tawaran yang dengan sengaja tidak kudengarkan. Yang kudengar hanyalah teriakan Chacha menjawab kesediannya menjadi pacar Fahmi. Seketika tulangku serasa remuk redam, kepalaku terasa berat, tanganku gemetar, dan tanpa sadar aku mengelus rambut Dyka yang ada disampingku dengan perlahan, hal itu kulakukan untuk meredam hatiku, meskipun Dyka dan Dita—Dyka’s girlfriend—melihat ke arahku dengan tercengang. Lalu, bu Fin datang kembali, dan menyuruh kami mempersiapkan dengan rapi seluruh alat dan bahan praktikum. Fahmi dan Aku berdiri bersamaan, dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Artinya, Aku harus berhadapan lagi dengan Chacha, seseorang yang tidak ingin kutemui sekaligus sangat ingin kuberi ucapan selamat itu. Saat berpapasan aku tidak sanggup memandang Fahmi.

“Namamu terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu terekam
Dalam pita batinku
Namun,
kau tak sanggup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab,
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untuknya,
bukan
Untukku”


Ketika sampai di tempat dudukku, Chacha menatap ke arahku dengan pandangan menyesal, bahkan matanya berkaca-kaca. Namun aku ingin sekali terlihat bahagia di depannya dengan memberikan selamat padanya. Tapi aku hanya sanggup sampai menjulurkan tanganku yang gemetar dan mengucapkan “Selam…” karena suaraku hilang mendadak. Chacha sangat mengerti perasaanku, dia memelukku, ingin kutepis, tapi aku sangat ingin diperlakukan seperti itu olehnya, dan aku sangat yakin hanya dia yang bisa melakukannya untukku.
Aku melepaskan pelukan itu karena ku takut air mata ini menetes, aku tidak mau praktikum ini menjadi gagal hanya gara-gara aku. Chacha berkali-kali menyentuh tanganku, mengelus pundakku, kepalaku, dan dia berkata padaku, “Nandaku, sayangku, cintaku, aku jadi enggak enak sama kamu. Aku tau gimana perasaan kamu, kalo kamu mau nangis, nangis aja, sambil ku peluk, aku siap.” Entah aku gengsi atau aku takut nanti nangisku malah tidak bisa berhenti, aku menolaknya, aku hanya tersenyum, aku mencoba membahas hal lain, dengan menceritakan lelucon, dan tertawa terbahak-bahak, pelarian andalanku. Chacha berkata, “Nan, ketawa kamu enggak ikhlas gitu.” Yaa Allah! aku lupa kalo Chacha bisa baca pikiranku juga! Aku minta maaf dan mengatakan, “Aku memang enggak ikhlas, aku yakin enggak ada yang abadi di bumi ini, yang abadi cuma perubahan, tapi sampai saat ini kamu tetep sahabatku.” Kuucapkan dengan sisa kekuatanku dengan suara sedikit sengau dan serak tentunya. “Nanda,” Chacha berkata dengan sedikit nada takut-takut, “Nan, kamu jangan marah, ya? Please..Aku minta maaf. Aku tak sanggup berkata apapun. Bahkan menggumam pun tak bisa. Aku hanya sanggup menatapnya lekat-lekat. Tak kusadari mata kami bertautan lama sekali, sampai dia tersadar bahwa mata kami berkaca-kaca. Inikah wanita yang dipilih Fahmi? Diakah yang memenangkan hati Fahmi…Yaa Allah aku sangat menyayangi Chacha, dia sungguh anugerah terindah yang kumiliki sekarang, Chacha begitu cantik, kepribadiannya lembut, hatinya baik, senyumnya sanggup melunakkan hati yang keras, bisa dibilang dia terlalu sempurna dan berharga untuk kukenal dan kujadikan sahabat, sungguh, Fahmi sangatlah beruntung memilikinya, yaah..meskipun entah sampai kapan ku dapat menjadi sahabatnya, namun aku tetap merasa beruntung pernah mengenalnya.
Pulang sekolah telah kuduga akan menjadi sesuatu yang sulit bagiku. Teman-temanku keluar kelas mendahuluiku. Biasanya, Chacha hanya mengajakku keluar sekolah bersama karena arah rumah kami berlawanan. Hal itu hampir setiap hari Ia lakukan. Tapi hari itu, aku tidak mendapatinya disampingku, yang kulihat hanyalah Galih, yang juga akan pulang sekolah. Setelah kulihat ke arah Fahmi dan gerombolan teman-temanku yang lain yang berjalan mendahuluiku, kulihat Chacha, berjalan beriringan bersama Fahmi, dalam hatiku berkata, “Serasi sekali mereka.” Tak kusangka Dita memikirkan hal yang sama, namun Dita mengatakannya dengan setengah berbisik namun kuyakin tak ada yang tidak dapat mendengarnya. Hmph.. aku hanya tersenyum mendengar Dita, wah..wah.. baru kali ini aku berpikiran sama dengannya.
Setelah memikirkan Dita, ku teringat bahwa hari itu aku membawa sepeda motor, enggak naik bison, aku mencari kunci motorku di dalam tas, Chaca sempat menoleh ke arahku, tapi dia sudah terlalu jauh. Aku setengah berlari menuju tempat parkir, mengingat matahari mulai merangkak turun. Disana, kudapati Nisa—temanku yang lain—sedang berdiri di pintu gerbang tempat parkir, aku berkata padanya, “Nisa, mau bareng?” dia menjawab, “Euhm, sori banget ya, Nan, aku udah bareng Dipto tuh, soriiiiiii banget.” Aku hanya meng-o saja. Namun, dalam hatiku berpendapat bahwa Nisa tidak perlu sampai minta maaf segala, mungkin karena dia tahu kalau hari itu aku enggak mood banget. Nisa memang salah satu temenku yang pengertian. Thanks yah?
Di dalam tempat parkir, aku mencari motorku, Ups! Kok enggak ada, yah? Waduh, gimana, nih? Aku muter-muter tempat parkir sampai 10 menit, tanpa sengaja aku bertemu Fahmi yang sedang mengeluarkan motornya dan memakai helm beserta slayer intermilan-nya. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya, saat itu aku sangat bingung mencari motorku. Yang aku herankan adalah, Fahmi tidak menyapaku atau berpamitan padaku, padahal aku sangat yakin dia melihatku karena sebelumnya Dipto berpamitan padaku. Huff..entahlah, terserah dia juga sih. Aku fokus lagi ke motorku. Duh, Yaa Allah, di mana motorku?. Aku mencarinya dengan berpasrah kepada Allah. 15 menit berlalu. Dan, tiba-tiba, yes! Kutemukan juga kau, Crypton item!
Setelah itu, aku segera keluar dari tempat parkir. Di pintu gerbang hanya Chacha yang kulihat. Nampaknya dia sedang menunggu taksi pesanannya. Kasihan dia, kalau saja rumahnya dekat, pasti kuantar. Aku menghampirinya dan menawarkan untuk menemaninya menunggu taksi. Dia hanya berkata terimakasih dan menyuruhku pulang. Jujur, aku sangat ingin pulang. Tapi, aku tahu sekali kalau dia berbohong. Dia hanya berbasa-basi padaku, dia hanya tidak mau merepotkanku. Aku meyakinkannya bahwa dia tidak merepotkanku dan aku akan menemaninya sampai taksinya datang. Dia berterimakasih padaku dan menyuruhku pulang kembali. Aku tidak menyangka dia melakukan itu. Mungkin dia pikir hari itu adalah hari yang berat untukku, sehingga dia menyuruhku pulang saja, tapi aku tetap bersikeras tidak mau pulang.
Setelah taksinya datang, aku berpamitan padanya dan segera melesat kencang. Fiuuh..yaa Allah, alhamdulillah, aku selamat sampai di rumah. Hari itu benar-benar menjadi hari yang melelahkan bagiku. Sangat melelahkan. Tanpa berganti seragam, aku merebahkan tubuhku di atas springbed yang empuk. Yaa Allah, terimakasih telah memberikan ketabahan untukku, dan semoga ini adalah yang terbaik bagiku, bagi Chacha, dan bagi Fahmi. Amin.

3 komentar:

icha mengatakan...

".....entah sampai kapan ku dapat menjadi sahabatnya....."


jawabanx..selamanya ndoel. .
ndoel,saaaayaaaang bwangedh ma kmu..
pliiiss,tar klo qta pisahan trus kmu liat q suatu saat,kmu jangan pernah bilang.."dulu dia pernah jadi sahabatku"


qta bakal sobat selamanya kn ndoel??iyaah kn??

I hope your heart say "yes" now,tommorow,forever laa. .

kalo q bisa,q pgen nyebut seribu kata maaph n terima kasih..

YA mengatakan...

semangat Nan..
Now, I know the real stroy on that day..

It's sad..
be strong ya..

Anonim mengatakan...

lho mbk..., 24 Januari tuh aku ultah lho...